Nama : Junita Simanjuntak
Kelas : Pagi
Prodi : Akuntansi
1.
Melalui
ilmu komputer tentunya sudah sering mendengar istilah data. Data terbagi
menjadi bermacam-macam tipe data yang terklasifikasi dan memiliki fungsi
sendiri. Tentunya, berbagai macam tipe data tersebut sangat bermanfaat bagi
kinerja komputer melalui kode-kode dalam bahasa pemrograman.
Data types atau tipe data adalah sebuah pengklasifikasian data berdasarkan jenis
data tersebut. Tipe data dibutuhkan agar kompiler dapat mengetahui bagaimana
sebuah data akan digunakan.
4 tipe data yang sering digunakan, di mana keempat tipe
tersebut termasuk ke dalam kategori tipe data primitive. Ia didefinisikan pada
suatu pemrograman dan bersifat bawaan. Tipe primitive hanya menyimpan satu
nilai saja dalam satu variabelnya. Berikut keempat tipe data tersebut:
1)
Bilangan
Bulat (Integer)
Tipe bilangan bulat (Integer) adalah tipe data numerik
yang biasa digunakan apabila bertemu dengan bilangan bulat, seperti 1, 27, 100,
dll. Bilangan ini juga mengenal nilai positif dan negatif (signed number). Tipe
data numerik yang termasuk ke dalam bilangan bulat adalah sebagai berikut:
|
Tipe Data
|
Ukuran
(Bit)
|
Range
|
|
Byte
|
8
|
-128 s/d 127
|
|
Short
|
16
|
-32768 s/d 32767
|
|
Int
|
32
|
-2147483648
s/d 2147483647
|
|
Long
|
64
|
-9223372036854775808 s/d 9223372036854775807
|
Dari keempat tipe data di atas, yang sering digunakan
adalah “int” atau Integer. Tipe “byte” dan “short” hanya digunakan pada
aplikasi khusus yang berkaitan dengan memori. Sedangkan tipe “long” sangat
jarang digunakan karena dirasa tidak memerlukan bilangan yang berkapasitas
besar, seperti kapasitas yang diberikan oleh tipe “long”.
a)
Byte
CONTOH 1
|
public class Main {
|
|
public static void main (String [] args)
|
|
//Deklarasi variabel
|
|
byte value = 1;
|
|
//Output
|
|
System.out.println("Nilai dari
byte = " + value);
|
|
}
|
Tipe byte biasa
digunakan pada saat kita bekerja dengan data stream pada file maupun jaringan.
Tipe ini diperlukan saat kita melakukan proses seperti membaca dan menulis.
Selain itu, byte juga digunakan saat
kita menggunakan data biner yang tidak kompatibel dengan tipe lainnya pada
program bahasa Java.
CONTOH II
|
public class Main {
|
|
public static void main (String [] args)
|
|
//Deklarasi variabel
|
|
byte value;
|
|
//Inisialisasi variabel
|
|
value = 1;
|
|
//Output
|
|
System.out.println{"Nilai dari
byte = " + value);
|
|
}
|
b)
Short
Tipe short sangat umum digunakan pada komputer yang
berkapasitas 16-bit, sehingga sangat jarang sekali kita temui dengan kapasitas
laptop saat ini.
c)
Int
Tipe int termasuk tipe yang sangat sering dipakai saat
ini karena merepresentasikan angka dalam pemrograman. Sebab tipe data int
dianggap paling efisien daripada tipe bilangan bulat lainnya. Tipe int
digunakan pada indeks dalam struktur perulangan maupun dalam array.
Secara teori, setiap ekspresi yang melibatkan tipe
integer byte, short, dan long, semuanya harus melalui prosedur int untuk
dipromosikan terlebih dahulu sebelum dilakukan perhitungan.
CONTOH I
|
public class Main {
|
|
public static void main (String [] args)
|
|
//Deklarasi variabel
|
|
int value = 20;
|
|
//Output
|
|
System.out.println("Nilai dari int
= " + value);
|
|
}
|
CONTOH II
|
public class Main {
|
|
public static void main (String [] args)
|
|
//Deklarasi variabel
|
|
int value;
|
|
//Inisialisasi variabel
|
|
value = 20;
|
|
//Output
|
|
System.out.println("Nilai dari int
= " + value);
|
|
}
|
d)
Long
CONTOH 1
|
public class Main {
|
|
public static void main (String [] args)
|
|
//Deklarasi variabel
|
|
long value = 22121;
|
|
//Output
|
|
System.out.println("Nilai dari
long = " + value);
|
|
}
|
|
|
CONTOH II
|
public class Main {
|
|
public static void main (String [] args)
|
|
//Deklarasi variabel
|
|
long value;
|
|
//Inisialisasi variabel
|
|
value = 22121;
|
|
//Output
|
|
System.out.println("Nilai dari
long = " + value);
|
|
}
|
|
|
Tipe long biasa digunakan saat nilainya berada di luar
kapasitas rentang tipe int karena tipe long punya range sangat tinggi dibanding
tipe data lainnya. Dengan kata lain, tipe long dibutuhkan saat data memiliki
range di luar jangkauan tipe int, short, maupun byte.
2)
Bilangan
Pecahan (Floating Point)
Tipe bilangan pecahan atau floating point adalah bilangan
yang menangani bilangan desimal atau perhitungan secara detail. Karena
kemampuannya, float point berbanding terbalik dengan integer. Terdapat dua tipe
pada bilangan pecahan ini.
|
Tipe
|
Ukuran
|
Range
|
Presisi (Jumlah Digit)
|
|
bytes
|
bit
|
|
Float
|
4
|
32
|
+/- 3.4 x
1038
|
6 – 7
|
|
Double
|
8
|
64
|
+/- 1.8 x
10308
|
15
|
a)
Float
Tipe float biasa digunakan untuk menandai nilai yang
presisi seperti ketelitian tunggal (single precision) dengan menggunakan
penyimpanan 32-bit. Tipe ini memiliki kemampuan yang lebih cepat jika digunakan
pada prosesor-prosesor tertentu dan pastinya memakan ruang penyimpanan yang
lebih kecil dari tipe double.
Pada tipe float, akan bermasalah pada saat nilainya
terlalu kecil atau terlalu besar, karena pada penerapannya nilai tersebut
menjadi tidak akurat.
CONTOH I
|
public class Main {
|
|
public static void main (String [] args)
|
|
//Deklarasi variabel
|
|
float ip = 3,7;
|
|
//Output
|
|
System.out.println("IP saya =
" + ip);
|
|
}
|
CONTOH II
|
public class Main {
|
|
public static void main (String [] args)
|
|
//Deklarasi variabel
|
|
float ip;
|
|
//Inisialisasi variabel
|
|
ip = 3,7;
|
|
//Output
|
|
System.out.ptintln("IP saya =
" + ip);
|
|
}
|
b)
Double
Tipe double memiliki tingkat ketelitian secara ganda atau
double precision dengan menggunakan ruang penyimpanan 64-bit dalam menyimpan
nilainya. Tipe tersebut pastinya memberikan kemampuan menghitung matematis
secara lebih cepat dari tipe float. Dalam perhitungan yang bersifat bilangan
riil dan menginginkan hasil yang lebih akurat, sebaiknya menggunakan tipe ini.
CONTOH I
|
public class Main {
|
|
public static void main (String [] args)
|
|
//Deklarasi variabel
|
|
double pi = 3.14285714286;
|
|
//Output
|
|
System.out.println("Nilai pi =
" + pi);
|
|
}
|
CONTOH II
|
public class Main {
|
|
public static void main (String [] args)
|
|
//Deklarasi variabel
|
|
int pi;
|
|
//Inisialisasi variabel
|
|
pi = 3.14285714286;
|
|
//Output
|
|
System.out.println("Nilai pi =
" + pi);
|
|
}
|
c)
Karakter
(Char)
Tipe data karakter tunggal yang biasa didefinisikan
dengan tanda petik (‘) di awal dan di akhir karakternya. Tipe ini mengikuti
aturan “unicode” sehingga bilangan harus diawali kode “/u”. Tetapi juga biasa
menggunakan bilangan heksadesimal dari 0000 sampai FFFF.
CONTOH I
|
public class Main {
|
|
public static void main (String [] args)
|
|
//Deklarasi variabel
|
|
char value = 'a';
|
|
//Output
|
|
System.out.println("Huruf pertama
adalah " + value);
|
|
}
|
|
|
CONTOH II
|
public class Main {
|
|
public static void main (String [] args)
|
|
//Deklarasi variabel
|
|
char value;
|
|
//Inisialisasi variabel
|
|
value = 'a';
|
|
//Output
|
|
System.out.println("Huruf Pertama
adalah " + value);
|
|
}
|
Pada tipe ini terdapat juga karakter-karakter yang tidak
dapat diketik melalui keyboard. Pada bahasa java kita bisa menemukan istilah
“escape sequence” (pasangan karakter yang dianggap karakter tunggal). Berikut
akan dijelaskan contoh escape sequence:
|
Escape Squence
|
Keterangan
|
Nilai Unicode
|
|
\ddd
|
Karakter Octal (ddd)
|
|
|
\uxxxx
|
Karakter
Unicode Heksadesimal (xxxx)
|
|
|
\’
|
Petik tunggal
|
\u0027
|
|
\*
|
Double
Quote
|
\u0022
|
|
\\
|
Backslash
|
\u005c
|
|
\r
|
Carriage
return
|
\u000d
|
|
\n
|
Baris baru (line feed)
|
\u000a
|
|
\f
|
Form
feed
|
|
|
\t
|
Tab
|
\u0009
|
|
\b
|
Backspace
|
\u0008
|
d)
Boolean
Tipe data boolean merupakan tipe yang memiliki dua nilai
yaitu benar (true) atau salah (false). Nilai yang digunakan pada tipe ini
sangat penting dalam mengambil keputusan suatu kejadian tertentu.
|
public class Main {
|
|
public class void main (String [] args)
|
|
//Deklarasi variabel
|
|
boolean value = true;
|
|
//Output
|
|
System.out.println("Nilai
boolean = " + value);
|
|
}
|
|
}
|
Nah, secara keseluruhan akan jadi seperti ini:
|
class Main {
|
|
public static void main (String [] args){
|
|
//Tipe data primitif
|
|
long sampleOfLong = 546767226531;
|
|
int sampleOfInteger = 2235641;
|
|
short sampleOfShort = 741;
|
|
byte sampleOfByte = 34;
|
|
float sampleOfFloat = 1.733;
|
|
double sampleOfDouble = 4.967;
|
|
char sampleOfChar = 'C';
|
|
boolean sampleOfBoolean = true;
|
|
|
|
System.out.println("Nilai Long :
" + sampleOfLong);
|
|
System.out.println("Nilai
Integer : " + sampleOfInteger);
|
|
System.out.println("Nilai Short
: " + sampleOfShort);
|
|
System.out.println("Nilai Byte :
" + sampleOfByte);
|
|
System.out.println("Nilai Float
: " + sampleOfFloat);
|
|
System.out.println("Nilai Double
: " + sampleOfDouble);
|
|
System.out.println("Nilai Char :
" + sampleOfChar);
|
|
System.out.println("Nilai
Boolean : " + sampleOfBoolean);
|
|
}
|
|
}
|
2. Dalam ilmu statistik, jenis data dibedakan
menjadi empat macam skala pengukuran, yaitu nominal, ordinal, interval, dan
rasio. Apa bedanya keempat skala pengukuran itu? baiklah saya uraikan perbedaan
keempat skala pengukuran tersebut.
1) Skala Nominal
Skala nominal merupakan skala yang paling lemah
dari semua skala pengukuran yang ada. Skala ini membedakan suatu peristiwa
dengan peristiwa yang lain berdasarkan nama. Pada skala ordinal semua data
dianggap bersifat kualitatif dan setara, sebagai contoh data siswa dibedakan
menjadi laki-laki diwakili dengan angka 1 dan perempuan diwakili dengan angka
2, konsekuensi dari nominal tidak mungkin seseorang memiliki dua kategori
sekaligus.
2) Skala Ordinal
Skala ordinal pengukuran didasarkan pada jumlah
relatif beberapa karakteristik khusus yang dimiliki oleh setiap peristiwa. Oleh
karena itu, pengukuran skala ordinal memungkinkan penyusunan peringkat dari
masingmasing peristiwa yang terjadi. Pada skala ordinal terdapat klasifikasi
data berdasarkan tingkatan, sebagai contoh tingkat pendidikan, kategori SD
diwakili angka 1, SMP diwakili angka 2, SMA diwakili angka 3, dan kategori
Serjana diwakili angka 4, dari data tingkat pendidikan yang diwakili angka 1,
2, 3 dan 4 memilii level yang berbeda.
3) Skala Interval
Pada skala interval, pembedaan peristiwa dapat
diurutkan. Antara peringkat satu dengan yang lain memiliki arti. Dengan kata
lain, selain bisa dibuat dalam peringkat data dapat pula dikuantitatifkan.
Sebagai contoh interval nilai pelajaran matematika di SMP Maju adalah 0 sampai
100, bila siswa A dan B masing-masing mendapat nilai 45 dan 90 bukan berarti
tingkat kecerdasan B dua kali dari tingkat kecerdasan A meskipun nilai B dua
kali dari nilai A.
4) Skala Rasio
Skala rasio merupakan pengukuran yang paling
tinggi. Skala rasio adalah hasil pengukuran untuk nilai yang sesungguhnya,
bukan kategori seperti pada skala nominal, ordinal maupun interval. Sebagai
contoh saldo A di bank BRI bernilai Rp.50.000,00. Angka 50.000 benar-benar real
bahwa A mempunyai uang sebesar Rp.50.000,00.
3.
Distribusi
frekuensi menurut Hasan (2001) merupakan susunan data menurut kelas interval
atau menurut kategori tertentu dalam sebuah daftar
1)
Jenis-Jenis
Distribusi Frekuensi
Adapun jenis-jenis dari distribusi frekuensi antara lain:
A.
Distribusi
Frekuensi Menurut Jenisnya
a)
Distribusi
Frekuensi Numerik, adalah suatu deret hitung yang berdidi sendiri.
b)
Distribusi
Frekuensi Kategorial, adalah data yang telah dikelompokkan.
B.
Distribusi
Frekuensi Menurutu Nyata Tidaknya Frekuensi
a)
Distribusi
frekuensi absolut, adah suatu jumlah bilangan yang menjelaskan banyaknya data
di suatu kelompok tertentu.
b)
Distribusi
frekuensi relatif, adalah suatu jumlah presentase yang menjelaskan banyaknya
data di suatu kelompok tertentu.
C.
Distribusi
Frekuensi Menurut Kesatuannya
a)
Distribusi
frekuensi satuan, adalah frekuensi yang menggambarkan berapa banyak data di
kelompok tertentu.
b)
Distribusi
frekuensi kumulatif, adalah distribusi frekuensi yang menggambarkan jumlah
frekuensi di sekelompok nilai tertentu mulai dari kelompok sebelumnya sampai
dengan kelompok itu.
Hasan (2001) menyatakan, distribusi frekuensi bisa dibagi
menjadi tiga, antara lain:
Distribusi Frekuensi Biasa
Adalah jenis distribusi frekuensi yang mengandung jumlah
frekuensi dari masing-masing kelompok data. Terdapat dua jenis distribusi
frekuensi yakni distribusi frekuensi numerik dan distribusi frekuensi peristiwa
atau kategori.
Distribusi Frekuensi Relatif
Adalah jenis distribusi frekuensi yang mengandung nilai
hasil bagi antara frekuensi kelas dan jumlah pengamatan . Distribusi frekuensi
relatif menjelaskan proporsi data yang terletak di suatu kelas interval, distribusi
frekuensi relatif suatu kelas diperoleh dengan cara membagi frekuensi dengan
total data yang ada dari pengamatan atau observasi.
Distribusi Frekuensi Kumulatif
Adalah jenis distribusi frekuensi yang mengandung
frekuensi kumulatif atau frekuensi yang dijumlahkan. Distribusi frekuensi
kumulatif mempunyai kurva yang dinamakan ogif. Terdapat dua jenis distribusi
frekuensi yakni fistribusi kumulatif kurang dari dan distribusi frekuensi lebih
dari.
Penyusunan Distribusi Frekuensi
Untuk melakukan penyusunan distribusi frekuensi atau
tahapannya adalah sebagai berikut:
1)
Urutkan
data-data lebih dulu sesuai dengan besar nilai pada data.
2)
Menentukan
jangkauan (range) dari data. Rumus jangkauan yakni:
Jangkauan = data terbesar-data terkecil
3)
Menentukan
banyaknya kelas (k). Banyaknya kelas bisa ditentukan dengan rumus sturgess:
K = 1 + 3.3 log n;k
Keterangan
k= banyaknya kelas
n= banyaknya data
4)
Menentukan
panjang interval kelas. Untuk menentukan panjang interval bisa memakai rumus:
Panjang interval kelas (i) = Jumlah kelas (k) / Jangkauan
(R)
5)
Menentukan
batas bawah kelas pertama. Tepi bawah kelas pertama seringkali dipilih dari
data terkecil atau data yang berasal dari pelebaran jangkauan (data yang lebih
kecil dari data data terkecil) dan selisihnya harus dikurangi dari panjang
interval kelasnya.
6)
Menuliskan
frekuensi kelas didalam kolom turus atau tally (sistem turus) sesuai banyaknya
data.
Bagian-Bagian Distribusi Frekuensi
Bagian-bagian dari distribusi frekuensi antara lain:
1)
Kelas
(class) merupakan kelompok nilai data atau variabel dari sebuah data acak
2)
Batas
Kelas (class limit) merupakan nilai yang menjadi batas antar kelas. Batas kelas
adalah batas semu dari masing-masing kelas, karena di antara kelas yang satu
dengan kelas yang lain masih ada lubang tempat angka tertentu. Terdapat dua
batas kelas untuk data yang telah diurutkan, yakni batas kelas bawah (lower
class limit) dan batas kelas atas (upper class limit)
3)
Tepi
kelas atau batas nyata kelas yang tidak mempunyai lubang untuk angka tertentu
antara kelas yang satu dengan yang lainnnya. Terdapat dua kelas yakni tepi
kelas atas dan tepi kelas bawah.
4)
Titik
tengah kelas atau tanda kelas merupakan angka atau nilai data yang tepat berada
di tengah kelas. Titik tengah kelas merupakan nilai yang menjawi wakil kelasnya
dalam data. Untuk menetapkan titik tengah kelas bisa dicari dengan rumus:
Titik Tengah Kelas = ½ (batas atas kelas + batas bawah
kelas)
5)
Interval
kelas merupakan selang yang menjadi pemisah kelas yang satu dengan kelas yang
lain.
6)
Panjang
interval kelas atau luas kelas merupakan jarak antara tepi atas kelas dengan
tepi bawah kelas
7)
Frekuensi
kelas merupakan banyaknya data yang termasuk ke dalam kelas tertentu dari data
acak.
4.
Berikut
ini adalah jawabannya
|
No
|
Data berat badan
|
Frekuensi
|
|
1
|
41 – 45
|
5
|
|
2
|
46 – 50
|
7
|
|
3
|
51 – 55
|
8
|
|
4
|
56 – 60
|
4
|
|
5
|
61 – 65
|
6
|
|
6
|
66 – 70
|
12
|
|
7
|
71 – 75
|
8
|
Penyelesaian
a)
Tentukan
nilai batas bawah dan atas dari setiap kelas!
Jawab
Tabel 1.11 nilai batas bawah dan atas
|
Kelas interval
|
Batas bawah
|
Batas atas
|
|
1
|
40,5
|
45,5
|
|
2
|
45,5
|
50,5
|
|
3
|
50,5
|
55,5
|
|
4
|
55,5
|
60,5
|
|
5
|
60,5
|
65,5
|
|
6
|
65,5
|
70,5
|
|
7
|
70,5
|
75,5
|
b)
Nilai tanda
setiap kelas adalah
1)
Kelas interval
pertama adalah 41 – 45 dengan frekuensi = 5 tanda kelasnya adalah = ½ ( 41 + 45
) = 43
2)
Kelas interval
kedua adalah 46 – 50 dengan frekuensi = 7. Tanda kelasnya adalah = ½ ( 46 + 50)
= 48
3)
Kelas interval
ketiga adalah 51 – 56 dengan frekuensi = 8. Tanda kelasnya adalah = ½ (51 – 56)
= 53,5
4)
Kelas interval
keempat adalah 56 – 60 dengan frekuensi = 4. Tanda kelasnya adalah = ½ (56 + 60)
= 58
5)
Kelas interval
kelima adalah 61 – 65 dengan frekuensi = 6. Tanda kelasnya adalah = ½ (61 + 65
) = 63
6)
Kelas interval
keenam adalah 66 – 70 dengan frekuensi =12. Tanda kelasnya adalah = ½ ( 66 + 70
) = 68
7)
Kelas interval
ketujuh adalah 71 – 75 dengan frekuensi =8. Tanda kelasnya adalah = ½ ( 70 + 75
) = 72,5
c)
Nilai frekuensi
relatif
%f1 = f1/N =5/50 x 100% = 10%
%f2 = f2/N = 7/50 X 100 % = 14%
%f3 = f3/N = 8/50 x 100% = 16%
%f4= f4/N = 4/50 x 100% = 8 %
%f5 =f5/N = 6/50 x 100 % = 12%
%f6 = f6/N = 12/50 x 100 % = 24%
%f7 = f7/N = 8/50 x 100 % = 16 %
Total =
100%