Nama : junita simanjuntak
Kelas : pagi
Prodi : d3 akuntansi
LANGKAH LANGKAH PEMECAHAN MASALAH SECARA STATISTIK
Penggunaan statistik untuk memecahkan masalah, akan memberikan hasil yang lebih tepat jika dalam pelaksanaannya mengikuti ancangan yang bersifat lebih ilmiah. Agar hasil pengolahan dapat memberikan jawaban yang rasional terhadap suatu permasalahan, maka dalam pelaksanaannya harus dilakukan
berdasarkan langkah langkah yang telah ditentukan. Jika satu langkah diabaikan maka besar kemungkinan hasil akhirnya tidak mampu menjelaskan dengan tepat. Langkah langkah dasar yang harus dilakukan dalam pemecahan masalah secara statistik adalah sebagai berikut:
A. Mengidentifikasi masalah atau peluang. Pertamakali yang harus dilakukan oleh pengguna adalah memahami dan mendefinisikan masalah atau peluang yang dihadapai secara tepat. Selanjutnya harus mengetahui informasi secara kuantitatif mengenai data yang mencakup sifat dan luasnya permasalahan.
B. Pengumpulan data berdasarkan fakta yang tersedia. Data yang dikumpulkan harus benar, tepat waktu, lengkap dan relevan terhadap permasalahan yang ditelaah. Sumber data dapat berasal dari data intern yaitu data dari dalam organisasi/lembaga itu sendiri, sedang data ekstern yaitu data yang diambil dari organisasi/lembaga tersebut. Misalnya dalam suatu perusahaan untuk data mengenai bisnis dan ekonomi, data intern dapat diambil dari unit akuntansi, produksi dan pemasaran dan unit lain yang mendukung. Sedang untuk data ekstern diambil dari luar organisasi tersebut, misalnya dari asosiasi perdagangan, konsumen, pemasok, berita bisnis (Business Week dan lain lain), publikasi badanbadan pemerintah (hasil Survey Bisnis, Sensus Bisnis, Statistik Indonesia dan lain lain).
Namun untuk hasil yang akurat, biasanya data diambil langsung dari pengumpul data sumber primer, misalnya organisasi yang pertamakali mengumpulkan data dan mempublikasikannya pertama kali. Hal ini disebabkan organisasi lain yang mereproduksi data primer tersebut
dapat melakukan kesalahan pada saat reproduksi dan tidak menjelaskan kesalahannya. Juga tidak dapat menjelaskan bagaimana data dikumpulkan dan apa keterbatasanketerbatasannya?
C. Pengumpulan data orsinil yang baru. Dalam banyak hal ada kemungkinan data yang diperlukan tidak semuanya tersedia pada sumber sumber yang telah didapat sehingga untuk memenuhinya harus mengumpulkan data sendiri. Ada beberapa keuntungan dari pengumpulan data baru ini, yaitu dapat mengetahui permasalahan dengan benar dan dapat berpartisipasi dalam mendefinisikan variabel variabel, menentukan cara cara pengukuran variabel, sehingga fakta yang dihasilkan akan
memiliki sifat sifat yang diperlukan untuk memecahkan masalah.
Ada bermacam macam metode untuk memperoleh data yang diinginkan, diantaranya:
wawancara secara pribadi, dilakukan dengan bertanya kepada responden berdasarkan daftar pertanyaan yang telah disiapkan. Ancangan pengumpulan data ini memungkinkan pewawancara
memperjelas istilah istilah yang tidak dimengerti responden, sehingga data yang diperoleh akan lebih akurat dan persentase perolehan data tinggi. Namun kelemahan ancangan ini adalah
membutuhkan biaya yang tinggi dan kadangkala responden tidak berkenan untuk memberikan keterangan, karena tidak senang dengan sikap pewawancara.
Dengan kuisioner melalui pos. Aturan umum yang harus dipenuhi cara ini adalah pertanyaan harus dirancang sederhana dan baik sehingga responden dalam member
ikan jawaban mudah mengisinya, misalnya hanya dengan memberi tanda atau dengan
kata kata yang sedikit. Penggunaan kuisioner relatif murah, namun persentase perolehan data yang bisa dimanfaatkan rendah sebab banyak kuisioner yang tidak dikembalikan dan ada
kemungkinan jawaban tidak diisi sendiri oleh responden atau ada kemungkinan juga jawaban yang diberikan tidak sesuai dengan yang ditanyakan
1. Pengklasifikasian dan mengikhtisarkan data. Langkah selanjutnya setelah pengumpulan data adalah mengorganisasikan atau mengelompokkan data untuk tujuan penelaahan. Klasifikasi adalah identifikasi data yang mempunyai karateristik serupa dan mengaturnya dalam suatu kelompok atau kelas. Misalnya data produksi dapat diklasifikasikan berdasarkan jenis produk yang dibuat, lokasi pabrik, atau proses produksi yang digunakan dan sebagainya. Klasifikasi dapat juga dilakukan dengan metode yang lebih singkat yaitu dengan cara memberi kode (coding). Nomor kode dapat dibuat untuk menunjukkan obyek, seperti orang, dapat diidentifikasi berdasarkan:nomor kartu tanda penduduk, nomor penggajian dan sebagainya. Untuk obyek tempat dapat diidentifikasi mengenai kode pos, nomor wilayah penjualan dan sebagainya. Untuk obyek benda dapat diidentifikasi mengenai sukuncadang, nomor katalog dan lain-
lain. Setelah diberi kode, data tersebut disusun dalam kelas- kelas yang teratur yang kemudian dibuat ringkasannya sehingga dapat lebih mudah untuk dimengerti dan memudahkan untuk pengolahan selanjutnya. Ringkasan tersebut umumnya dalam bentuk grafik, tabel, nilai deskripsi numerik seperti
ukuran nilai tengah, ukuran dispersi dan lainnya.
2. Penyajian. Informasi dalam bentuk tabel, grafik dan ukuran kuantitatif sangat diperlukan sebab sangat membantu dalam memahami suatu permasalahan, dapat membantu dalam mengidentifikasi hubungan hubungan serta dapat membantu para analisis dalam menyajikan dan mengkomunikasikan butir butir yang penting kepada pihak yang berkepentingan.
3. Menganalisis data. Orang yang menganalisis data harus menginterpretasikan langkah langkah yang telah dilakukannya. Jika menggunakan ukuran deskriptif untuk menarik suatu kesimpulan maka analis harus menginterpretasikan alat bantu statistik yang digunakan untuk mencari kemungkinan alternatif alternatif pemecahan masalah yang paling tepat. Namun ketepatan hasil alternatif pemecahan masalah sangat ditentukan oleh keterampilan para pemecah masalah dan kualitas informasi yang dimiliki. Pengambil keputusan harus mempertimbangkan pilihan pilihan atas dasar sasaran yang telah ditentukan agar menghas
ilkan satu rencana atau keputusan yang merupakan jawaban terbaik terhadap permasalahan yang dihadapi.

