Jumat, 30 April 2021

UJIAN TENGAH SEMESTER STATISTIKA INDUSTRI KAMPUS MILENIAL ITBI

 

Nama        : Junita Simanjuntak

Kelas         : Pagi

Prodi         : Akuntansi

 

 

1.    Melalui ilmu komputer tentunya sudah sering mendengar istilah data. Data terbagi menjadi bermacam-macam tipe data yang terklasifikasi dan memiliki fungsi sendiri. Tentunya, berbagai macam tipe data tersebut sangat bermanfaat bagi kinerja komputer melalui kode-kode dalam bahasa pemrograman.

Data types atau tipe data adalah sebuah pengklasifikasian data berdasarkan jenis data tersebut. Tipe data dibutuhkan agar kompiler dapat mengetahui bagaimana sebuah data akan digunakan.

4 tipe data yang sering digunakan, di mana keempat tipe tersebut termasuk ke dalam kategori tipe data primitive. Ia didefinisikan pada suatu pemrograman dan bersifat bawaan. Tipe primitive hanya menyimpan satu nilai saja dalam satu variabelnya. Berikut keempat tipe data tersebut:

1)   Bilangan Bulat (Integer)

Tipe bilangan bulat (Integer) adalah tipe data numerik yang biasa digunakan apabila bertemu dengan bilangan bulat, seperti 1, 27, 100, dll. Bilangan ini juga mengenal nilai positif dan negatif (signed number). Tipe data numerik yang termasuk ke dalam bilangan bulat adalah sebagai berikut:

Tipe Data

Ukuran (Bit)

Range

Byte

8

-128 s/d 127

Short

16

-32768 s/d 32767

Int

32

-2147483648 s/d 2147483647

Long

64

-9223372036854775808 s/d 9223372036854775807

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Dari keempat tipe data di atas, yang sering digunakan adalah “int” atau Integer. Tipe “byte” dan “short” hanya digunakan pada aplikasi khusus yang berkaitan dengan memori. Sedangkan tipe “long” sangat jarang digunakan karena dirasa tidak memerlukan bilangan yang berkapasitas besar, seperti kapasitas yang diberikan oleh tipe “long”.

a)    Byte

CONTOH 1

 

public class Main {

   public static void main (String [] args)

      //Deklarasi variabel

      byte value = 1;

      //Output

      System.out.println("Nilai dari byte = " + value);

}

Tipe byte biasa digunakan pada saat kita bekerja dengan data stream pada file maupun jaringan. Tipe ini diperlukan saat kita melakukan proses seperti membaca dan menulis. Selain itu, byte juga digunakan saat kita menggunakan data biner yang tidak kompatibel dengan tipe lainnya pada program bahasa Java.

 

CONTOH II

 

public class Main {

   public static void main (String [] args)

      //Deklarasi variabel

      byte value;

      //Inisialisasi variabel

      value = 1;

      //Output

      System.out.println{"Nilai dari byte = " + value);

}

 

 

b)   Short

Tipe short sangat umum digunakan pada komputer yang berkapasitas 16-bit, sehingga sangat jarang sekali kita temui dengan kapasitas laptop saat ini.

c)    Int

Tipe int termasuk tipe yang sangat sering dipakai saat ini karena merepresentasikan angka dalam pemrograman. Sebab tipe data int dianggap paling efisien daripada tipe bilangan bulat lainnya. Tipe int digunakan pada indeks dalam struktur perulangan maupun dalam array.

Secara teori, setiap ekspresi yang melibatkan tipe integer byte, short, dan long, semuanya harus melalui prosedur int untuk dipromosikan terlebih dahulu sebelum dilakukan perhitungan.

CONTOH I

 

public class Main {

   public static void main (String [] args)

      //Deklarasi variabel

      int value = 20;

      //Output

      System.out.println("Nilai dari int = " + value);

}

 

CONTOH II

public class Main {

   public static void main (String [] args)

      //Deklarasi variabel

      int value;

      //Inisialisasi variabel

      value = 20;

      //Output

      System.out.println("Nilai dari int = " + value);

}

 

d)   Long

 

CONTOH 1

public class Main {

   public static void main (String [] args)

       //Deklarasi variabel

       long value = 22121;

       //Output

       System.out.println("Nilai dari long = " + value);

}

 

 

 

CONTOH II

 

public class Main {

   public static void main (String [] args)

      //Deklarasi variabel

      long value;

      //Inisialisasi variabel

      value = 22121;

      //Output

      System.out.println("Nilai dari long = " + value);

}

 

 

Tipe long biasa digunakan saat nilainya berada di luar kapasitas rentang tipe int karena tipe long punya range sangat tinggi dibanding tipe data lainnya. Dengan kata lain, tipe long dibutuhkan saat data memiliki range di luar jangkauan tipe int, short, maupun byte.

 

2)   Bilangan Pecahan (Floating Point)

Tipe bilangan pecahan atau floating point adalah bilangan yang menangani bilangan desimal atau perhitungan secara detail. Karena kemampuannya, float point berbanding terbalik dengan integer. Terdapat dua tipe pada bilangan pecahan ini.

Tipe

Ukuran

Range

Presisi (Jumlah Digit)

bytes

bit

Float

4

32

+/- 3.4 x 1038

6 – 7

Double

8

64

+/- 1.8 x 10308

15

 

 

 

a)    Float

Tipe float biasa digunakan untuk menandai nilai yang presisi seperti ketelitian tunggal (single precision) dengan menggunakan penyimpanan 32-bit. Tipe ini memiliki kemampuan yang lebih cepat jika digunakan pada prosesor-prosesor tertentu dan pastinya memakan ruang penyimpanan yang lebih kecil dari tipe double.

Pada tipe float, akan bermasalah pada saat nilainya terlalu kecil atau terlalu besar, karena pada penerapannya nilai tersebut menjadi tidak akurat.

 

CONTOH I

 

public class Main {

   public static void main (String [] args)

      //Deklarasi variabel

      float ip = 3,7;

      //Output

      System.out.println("IP saya = " + ip);

}

 

CONTOH II

 

public class Main {

   public static void main (String [] args)

      //Deklarasi variabel

      float ip;

      //Inisialisasi variabel

      ip = 3,7;

      //Output

      System.out.ptintln("IP saya = " + ip);

}

 

b)   Double

Tipe double memiliki tingkat ketelitian secara ganda atau double precision dengan menggunakan ruang penyimpanan 64-bit dalam menyimpan nilainya. Tipe tersebut pastinya memberikan kemampuan menghitung matematis secara lebih cepat dari tipe float. Dalam perhitungan yang bersifat bilangan riil dan menginginkan hasil yang lebih akurat, sebaiknya menggunakan tipe ini.

 

CONTOH I

public class Main {

   public static void main (String [] args)

      //Deklarasi variabel

      double pi = 3.14285714286;

      //Output

      System.out.println("Nilai pi = " + pi);

}

 

 

CONTOH II

public class Main {

   public static void main (String [] args)

      //Deklarasi variabel

      int pi;

      //Inisialisasi variabel

      pi = 3.14285714286;

      //Output

      System.out.println("Nilai pi = " + pi);

}

 

 

 

c)    Karakter (Char)

Tipe data karakter tunggal yang biasa didefinisikan dengan tanda petik (‘) di awal dan di akhir karakternya. Tipe ini mengikuti aturan “unicode” sehingga bilangan harus diawali kode “/u”. Tetapi juga biasa menggunakan bilangan heksadesimal dari 0000 sampai FFFF.

 

CONTOH I

 

public class Main {

   public static void main (String [] args)

      //Deklarasi variabel

      char value = 'a';

      //Output

      System.out.println("Huruf pertama adalah " + value);

}

 

 

 

CONTOH II

 

public class Main {

   public static void main (String [] args)

      //Deklarasi variabel

      char value;

      //Inisialisasi variabel

      value = 'a';

      //Output

      System.out.println("Huruf Pertama adalah " + value);

}

 

 

Pada tipe ini terdapat juga karakter-karakter yang tidak dapat diketik melalui keyboard. Pada bahasa java kita bisa menemukan istilah “escape sequence” (pasangan karakter yang dianggap karakter tunggal). Berikut akan dijelaskan contoh escape sequence:

 

Escape Squence

Keterangan

Nilai Unicode

\ddd

Karakter Octal (ddd)

 

\uxxxx

Karakter Unicode Heksadesimal (xxxx)


\’

Petik tunggal

\u0027

\*

Double Quote

\u0022

\\

Backslash

\u005c

\r

Carriage return

\u000d

\n

Baris baru (line feed)

\u000a

\f

Form feed


\t

Tab

\u0009

\b

Backspace

\u0008

 

d)   Boolean

Tipe data boolean merupakan tipe yang memiliki dua nilai yaitu benar (true) atau salah (false). Nilai yang digunakan pada tipe ini sangat penting dalam mengambil keputusan suatu kejadian tertentu.

 

public class Main {

    public class void main (String [] args)

        //Deklarasi variabel

        boolean value = true;

        //Output

        System.out.println("Nilai boolean = " + value);

    }

}

 

Nah, secara keseluruhan akan jadi seperti ini:

 

class Main {

    public static void main (String [] args){

        //Tipe data primitif

        long sampleOfLong = 546767226531;

        int sampleOfInteger = 2235641;

        short sampleOfShort = 741;

        byte sampleOfByte = 34;

        float sampleOfFloat = 1.733;

        double sampleOfDouble = 4.967;

        char sampleOfChar = 'C';

        boolean sampleOfBoolean = true;

 

        System.out.println("Nilai Long : " + sampleOfLong);

        System.out.println("Nilai Integer : " + sampleOfInteger);

        System.out.println("Nilai Short : " + sampleOfShort);

        System.out.println("Nilai Byte : " + sampleOfByte);

        System.out.println("Nilai Float : " + sampleOfFloat);

        System.out.println("Nilai Double : " + sampleOfDouble);

        System.out.println("Nilai Char : " + sampleOfChar);

        System.out.println("Nilai Boolean : " + sampleOfBoolean);

    }

}

 

 

 

 

 

 

2.    Dalam ilmu statistik, jenis data dibedakan menjadi empat macam skala pengukuran, yaitu nominal, ordinal, interval, dan rasio. Apa bedanya keempat skala pengukuran itu? baiklah saya uraikan perbedaan keempat skala pengukuran tersebut.

 

1)   Skala Nominal

Skala nominal merupakan skala yang paling lemah dari semua skala pengukuran yang ada. Skala ini membedakan suatu peristiwa dengan peristiwa yang lain berdasarkan nama. Pada skala ordinal semua data dianggap bersifat kualitatif dan setara, sebagai contoh data siswa dibedakan menjadi laki-laki diwakili dengan angka 1 dan perempuan diwakili dengan angka 2, konsekuensi dari nominal tidak mungkin seseorang memiliki dua kategori sekaligus.

 

2)   Skala Ordinal

Skala ordinal pengukuran didasarkan pada jumlah relatif beberapa karakteristik khusus yang dimiliki oleh setiap peristiwa. Oleh karena itu, pengukuran skala ordinal memungkinkan penyusunan peringkat dari masingmasing peristiwa yang terjadi. Pada skala ordinal terdapat klasifikasi data berdasarkan tingkatan, sebagai contoh tingkat pendidikan, kategori SD diwakili angka 1, SMP diwakili angka 2, SMA diwakili angka 3, dan kategori Serjana diwakili angka 4, dari data tingkat pendidikan yang diwakili angka 1, 2, 3 dan 4 memilii level yang berbeda.

 

3)   Skala Interval

Pada skala interval, pembedaan peristiwa dapat diurutkan. Antara peringkat satu dengan yang lain memiliki arti. Dengan kata lain, selain bisa dibuat dalam peringkat data dapat pula dikuantitatifkan. Sebagai contoh interval nilai pelajaran matematika di SMP Maju adalah 0 sampai 100, bila siswa A dan B masing-masing mendapat nilai 45 dan 90 bukan berarti tingkat kecerdasan B dua kali dari tingkat kecerdasan A meskipun nilai B dua kali dari nilai A.

 

4)   Skala Rasio

Skala rasio merupakan pengukuran yang paling tinggi. Skala rasio adalah hasil pengukuran untuk nilai yang sesungguhnya, bukan kategori seperti pada skala nominal, ordinal maupun interval. Sebagai contoh saldo A di bank BRI bernilai Rp.50.000,00. Angka 50.000 benar-benar real bahwa A mempunyai uang sebesar Rp.50.000,00.

 

 

 

3.    Distribusi frekuensi menurut Hasan (2001) merupakan susunan data menurut kelas interval atau menurut kategori tertentu dalam sebuah daftar

1)   Jenis-Jenis Distribusi Frekuensi

Adapun jenis-jenis dari distribusi frekuensi antara lain:

A.   Distribusi Frekuensi Menurut Jenisnya

a)    Distribusi Frekuensi Numerik, adalah suatu deret hitung yang berdidi sendiri.

b)   Distribusi Frekuensi Kategorial, adalah data yang telah dikelompokkan.

 

B.    Distribusi Frekuensi Menurutu Nyata Tidaknya Frekuensi

a)    Distribusi frekuensi absolut, adah suatu jumlah bilangan yang menjelaskan banyaknya data di suatu kelompok tertentu.

b)   Distribusi frekuensi relatif, adalah suatu jumlah presentase yang menjelaskan banyaknya data di suatu kelompok tertentu.

C.   Distribusi Frekuensi Menurut Kesatuannya

a)    Distribusi frekuensi satuan, adalah frekuensi yang menggambarkan berapa banyak data di kelompok tertentu.

b)   Distribusi frekuensi kumulatif, adalah distribusi frekuensi yang menggambarkan jumlah frekuensi di sekelompok nilai tertentu mulai dari kelompok sebelumnya sampai dengan kelompok itu.

 

Hasan (2001) menyatakan, distribusi frekuensi bisa dibagi menjadi tiga, antara lain:

Distribusi Frekuensi Biasa

Adalah jenis distribusi frekuensi yang mengandung jumlah frekuensi dari masing-masing kelompok data. Terdapat dua jenis distribusi frekuensi yakni distribusi frekuensi numerik dan distribusi frekuensi peristiwa atau kategori.

 

Distribusi Frekuensi Relatif

Adalah jenis distribusi frekuensi yang mengandung nilai hasil bagi antara frekuensi kelas dan jumlah pengamatan . Distribusi frekuensi relatif menjelaskan proporsi data yang terletak di suatu kelas interval, distribusi frekuensi relatif suatu kelas diperoleh dengan cara membagi frekuensi dengan total data yang ada dari pengamatan atau observasi.

 

Distribusi Frekuensi Kumulatif

Adalah jenis distribusi frekuensi yang mengandung frekuensi kumulatif atau frekuensi yang dijumlahkan. Distribusi frekuensi kumulatif mempunyai kurva yang dinamakan ogif. Terdapat dua jenis distribusi frekuensi yakni fistribusi kumulatif kurang dari dan distribusi frekuensi lebih dari.

Penyusunan Distribusi Frekuensi

Untuk melakukan penyusunan distribusi frekuensi atau tahapannya adalah sebagai berikut:

1)   Urutkan data-data lebih dulu sesuai dengan besar nilai pada data.

2)   Menentukan jangkauan (range) dari data. Rumus jangkauan yakni:

Jangkauan = data terbesar-data terkecil

3)   Menentukan banyaknya kelas (k). Banyaknya kelas bisa ditentukan dengan rumus sturgess:

K = 1 + 3.3 log n;k

Keterangan

k= banyaknya kelas

n= banyaknya data

4)   Menentukan panjang interval kelas. Untuk menentukan panjang interval bisa memakai rumus:

Panjang interval kelas (i) = Jumlah kelas (k) / Jangkauan (R)

5)   Menentukan batas bawah kelas pertama. Tepi bawah kelas pertama seringkali dipilih dari data terkecil atau data yang berasal dari pelebaran jangkauan (data yang lebih kecil dari data data terkecil) dan selisihnya harus dikurangi dari panjang interval kelasnya.

6)   Menuliskan frekuensi kelas didalam kolom turus atau tally (sistem turus) sesuai banyaknya data.

 

Bagian-Bagian Distribusi Frekuensi

Bagian-bagian dari distribusi frekuensi antara lain:

1)   Kelas (class) merupakan kelompok nilai data atau variabel dari sebuah data acak

2)   Batas Kelas (class limit) merupakan nilai yang menjadi batas antar kelas. Batas kelas adalah batas semu dari masing-masing kelas, karena di antara kelas yang satu dengan kelas yang lain masih ada lubang tempat angka tertentu. Terdapat dua batas kelas untuk data yang telah diurutkan, yakni batas kelas bawah (lower class limit) dan batas kelas atas (upper class limit)

3)   Tepi kelas atau batas nyata kelas yang tidak mempunyai lubang untuk angka tertentu antara kelas yang satu dengan yang lainnnya. Terdapat dua kelas yakni tepi kelas atas dan tepi kelas bawah.

4)   Titik tengah kelas atau tanda kelas merupakan angka atau nilai data yang tepat berada di tengah kelas. Titik tengah kelas merupakan nilai yang menjawi wakil kelasnya dalam data. Untuk menetapkan titik tengah kelas bisa dicari dengan rumus:

Titik Tengah Kelas = ½ (batas atas kelas + batas bawah kelas)

5)   Interval kelas merupakan selang yang menjadi pemisah kelas yang satu dengan kelas yang lain.

6)   Panjang interval kelas atau luas kelas merupakan jarak antara tepi atas kelas dengan tepi bawah kelas

7)   Frekuensi kelas merupakan banyaknya data yang termasuk ke dalam kelas tertentu dari data acak.

 

 

4.     Berikut ini adalah jawabannya

 

No

Data berat badan

Frekuensi

1

41 – 45

5

2

46 – 50

7

3

51 – 55

8

4

56 – 60

4

5

61 – 65

6

6

66 – 70

12

7

71 – 75

8

 

Penyelesaian

a)    Tentukan nilai batas bawah dan atas dari setiap kelas!

Jawab

Tabel 1.11 nilai batas bawah dan atas

Kelas interval

Batas bawah

Batas atas

1

40,5

45,5

2

45,5

50,5

3

50,5

55,5

4

55,5

60,5

5

60,5

65,5

6

65,5

70,5

7

70,5

75,5

 

 

b)   Nilai tanda setiap kelas adalah

1)   Kelas interval pertama adalah 41 – 45 dengan frekuensi = 5 tanda kelasnya adalah = ½ ( 41 + 45 ) = 43

2)   Kelas interval kedua adalah 46 – 50 dengan frekuensi = 7. Tanda kelasnya adalah = ½ ( 46 + 50) = 48

3)   Kelas interval ketiga adalah 51 – 56 dengan frekuensi = 8. Tanda kelasnya adalah = ½ (51 – 56) = 53,5

4)   Kelas interval keempat adalah 56 – 60 dengan frekuensi = 4. Tanda kelasnya adalah = ½ (56 + 60) = 58

5)   Kelas interval kelima adalah 61 – 65 dengan frekuensi = 6. Tanda kelasnya adalah = ½ (61 + 65 ) = 63

6)   Kelas interval keenam adalah 66 – 70 dengan frekuensi =12. Tanda kelasnya adalah = ½ ( 66 + 70 ) = 68

7)   Kelas interval ketujuh adalah 71 – 75 dengan frekuensi =8. Tanda kelasnya adalah = ½ ( 70 + 75 ) = 72,5

 

 

c)    Nilai frekuensi relatif

%f1 = f1/N =5/50 x 100% = 10%

%f2 = f2/N = 7/50 X 100 % = 14%

%f3 = f3/N = 8/50 x 100% = 16%

%f4= f4/N = 4/50 x 100% = 8 %

%f5 =f5/N = 6/50 x 100 % = 12%

%f6 = f6/N = 12/50 x 100 % = 24%

%f7 = f7/N = 8/50 x 100 % = 16 %

Total                   = 100%

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

TUGAS MANDIRI 05 STATISTIKA INDUSTRI KAMPUS MILENIAL ITBI

  Nama                  : junita simanjuntak Kelas                 : pagi Prodi                 : d3 akuntansi       LANGKAH ...